
Manado, 23 Februari 2026 vilennews.online – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus, turut meramaikan perayaan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang diselenggarakan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Sulut di Graha Gubernuran, Minggu (22/02/2026). Perayaan tahun ini jatuh pada tahun Kuda Api dalam kalender Cina, yang dalam filosofi Khonghucu melambangkan kebijaksanaan, kesabaran, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Perayaan mengangkat tema nasional yang sarat makna filosofis: “Kalau Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan (Lunyu XVI:1.10)”. Kutipan dari kitab suci Khonghucu Lunyu (Analekta) tersebut mengacu pada ajaran Konfusius tentang pentingnya keadilan sosial sebagai pondasi utama untuk mewujudkan kesejahteraan dan keharmonisan. Dalam pemikiran Khonghucu, keadilan (yi) merupakan salah satu nilai luhur yang harus dijunjung tinggi oleh pemimpin dan seluruh masyarakat, karena dari keadilan lahirlah kepercayaan dan kesejahteraan yang merata.

Dalam sambutannya, Gubernur Yulius menegaskan komitmennya untuk tidak mengabaikan atau mempinggirkan salah satu kelompok masyarakat apa pun. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat termasuk komunitas Tionghoa adalah bagian yang tak terpisahkan dan vital dalam pembangunan Sulut. Hal ini selaras dengan prinsip “Rukun Negara” yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, serta nilai “Bhineka Tunggal Ika” yang menjadi jiwa kebangsaan Indonesia. “Perayaan Imlek bukan hanya tradisi budaya yang diwariskan dari leluhur, melainkan renungan mendalam bagi kita semua untuk terus menghadirkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Jika keadilan tegak dengan kuat, maka kesejahteraan akan terwujud secara alamiah dan kemiskinan bisa kita atasi secara bersama-sama,” tegasnya. Gubernur juga mengapresiasi kontribusi konsisten komunitas Tionghoa yang telah terbukti menjadi salah satu pilar dalam dinamika pembangunan daerah. Kontribusi mereka tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi melalui berbagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor perdagangan, tetapi juga dalam menjaga stabilitas sosial melalui semangat toleransi yang telah menjadi akar kekuatan di Sulut sejak lama. Data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Sulut mencatat bahwa sekitar 35% UMKM di wilayah Manado dan sekitarnya dikelola oleh pelaku usaha dari komunitas Tionghoa, yang memberikan lapangan kerja bagi ratusan orang. Menanggapi hal tersebut, Ketua MATAKIN Sulut, Riano Baggy, menyampaikan rasa terima kasih dengan penuh haru. Ia menyebut Gubernur Yulius bukan sekadar pemimpin yang menjalankan tugas, melainkan seperti orang tua bagi komunitasnya yang selalu memberikan perhatian dan dukungan. “Terima kasih Bapak Gubernur Yulius, Bapak sudah kami anggap seperti orang tua sendiri yang selalu menjaga dan melindungi kami. Terima kasih telah hadir secara langsung dan memberikan rasa aman serta kebersamaan yang begitu berharga bagi kami dalam merayakan hari bahagia ini,” ujar Riano. Acara perayaan juga diisi dengan berbagai kegiatan budaya, seperti tarian barongsai yang melambangkan keberuntungan dan pemusnahan energi negatif, serta pemberian semangat kepada peserta hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang kaya nilai filosofis. Kegiatan juga dihadiri oleh komunitas Ibu-ibu muslim,anak yatim-piatu dan berbagai agama.

#Suwarni
