
MANADO 23 April 2026 Vilennews.online – Kepala Sekolah SMA Negeri 8 Manado, Mediatrix Ngantung, memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya keluhan yang menyebut adanya pungutan atau kewajiban biaya yang memberatkan dalam rangka kegiatan perpisahan dan penamatan siswa kelas XII.

Pihak sekolah menegaskan bahwa seluruh aturan yang diterapkan bersifat fleksibel, tidak memaksa, dan sangat memperhatikan kemampuan ekonomi orang tua. Menanggapi isu yang berkembang, Mediatrix menegaskan bahwa tidak ada kebijakan yang memberatkan. Ia meluruskan beberapa poin yang menjadi perbincangan publik. Jas Bukan Seragam WajibTerkait pakaian yang akan digunakan saat acara, Kepala Sekolah menegaskan bahwa penggunaan jas tidak diharuskan.”Untuk seragam, tidak diharuskan memakai jas. Ada juga anak-anak (siswa) yang hanya memakai kemeja putih,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah memberikan kebebasan bagi siswa untuk tampil rapi sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing, tanpa adanya standar pakaian yang memaksa pengeluaran biaya besar. Konsumsi dari MBG, Tidak Ada Instruksi Membawa Makanan. Sementara itu, terkait isu pengumpulan uang konsumsi sebesar Rp50.000, pihak sekolah membantah keras adanya instruksi tersebut. Menurutnya, kebutuhan makan siang untuk siswa dan guru sudah sepenuhnya ditanggung melalui program MBG (Makan Bergizi Gratis) dari pemerintah. “Kalau untuk penguji memang disediakan snack. Namun, jika ada orang tua yang membawa konsumsi, itu murni inisiatif dan kerelaan hati mereka sendiri. Tapi kalau ada instruksi resmi dari sekolah untuk membayar atau membawa sesuatu, sama sekali tidak ada,” jelasnya.
Keprihatinan dan Kanal Komunikasi yang Terbuka, Mediatrix mengaku prihatin jika informasi ini justru berkembang menjadi isu negatif di luar sekolah. Ia menegaskan bahwa pintu komunikasi selalu terbuka lebar bagi seluruh orang tua. “Saya sangat menyayangkan hal ini. Padahal orang tua siswa boleh langsung datang menemui saya atau menghubungi saya untuk menyampaikan keluhan. Nomor telepon saya bahkan saya bagikan ke semua orang tua, jadi komunikasi sangat mudah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan akan segera mengonfirmasi dan menyamakan persepsi kembali dengan para Wali Kelas agar tidak terjadi kesalahpahaman informasi di tingkat bawah.
Wali Kelas: Semua Dibicarakan, Tidak Ada Pemaksaan Saat dikonfirmasi terpisah, salah satu Wali Kelas XII yang meminta namanya dirahasiakan membenarkan penjelasan Kepala Sekolah. Menurutnya, segala rencana acara sudah dibahas secara musyawarah dengan siswa dan tidak ada keluhan berarti. “Ini semua tidak dipaksakan, kami atur sesuai kemampuan. Kami sangat menyadari ada siswa yang mampu dan ada yang tidak, jadi kami tidak mungkin membebani,” jelasnya.

Bahkan dari keterangan penjelasan, Panitia Penamatan Lieke Peggy Roring, S.Pd. menjelaskan bahwa sudah tidak ada giat Penamatan dengan agenda yang dibicarakan tapi dengan kesederhanaan dibuat di kelas masing-masing seperti saat penyerahan raport, dan ini sudah diarahkan oleh ibu kepsek.” Arahan dari kepala sekolah bahwa Penamatan di buat sesederhana mungkin di kelas pakai baju sekolah batik Dan dilakukan di buat Penamatan di kelas masing-masing ” Dengan klarifikasi ini, pihak sekolah berharap masyarakat dapat melihat fakta yang sebenarnya dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan yang merugikan lembaga pendidikan yang sedang berupaya memberikan pelayanan terbaik, tutup ibu Lieke.
#Redaksi
